diyetekno.com – Samsung baru saja membuat gebrakan besar dalam dunia ponsel lipat. Setelah bertahun-tahun berinovasi, raksasa teknologi Korea Selatan ini akhirnya berhasil menyempurnakan perangkat lipatnya. Desain kini lebih ramping, layar lebih luas, dan tampilannya semakin menyerupai ponsel konvensional. Namun, di balik semua kemajuan teknis itu, satu pertanyaan besar masih menggantung: apakah ponsel lipat ini sudah benar-benar "keren" di mata publik?
Meski secara teknis hampir tanpa cela, ada nuansa yang membuat ponsel lipat masih terasa kurang memikat. Sensasi membuka dan melipat ponsel di era digital modern ini terkadang terasa seperti kilas balik ke era 90-an. Di saat sebagian besar ponsel telah berevolusi menjadi lembaran kaca mulus tanpa sambungan, kehadiran engsel di tengah layar seolah menjadi langkah mundur. Konsep "retro" memang seringkali menarik, namun untuk ponsel lipat, nuansa ini justru membuatnya terasa terjebak di antara dua zaman.

Selain faktor gaya, banderol harga yang fantastis juga menjadi penghalang. Model terbaru seperti Z Fold 8 Ultra dikabarkan menembus angka 2.000 dolar AS, sebuah nominal yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Meskipun ada laporan bahwa harganya bisa lebih murah di Korea, biaya tinggi tetap menjadi rintangan utama bagi adopsi massal. Samsung sendiri telah menempuh perjalanan panjang sejak meluncurkan Galaxy Fold pertamanya di tahun 2019, yang kala itu disebut sebagai "ponsel paling visioner yang sebaiknya tidak Anda beli".
Namun, ujian sesungguhnya bagi ponsel lipat mungkin baru akan tiba saat Apple memutuskan untuk turut serta. Sejarah mencatat, Apple memiliki keahlian unik dalam memasuki kategori produk yang sudah ada, menyempurnakan setiap detail yang terlihat, memberikan nama yang berkesan, dan kemudian membuat seolah merek lain hanyalah penguji coba masa depan. Di bawah kepemimpinan Steve Jobs, filosofi "terbaik, bukan yang pertama" adalah trik andalan Apple. iPod bukanlah pemutar MP3 pertama, iPhone bukan smartphone perdana, dan iPad bukan tablet pertama. Kejeniusan Apple terletak pada kemampuannya membiarkan perusahaan lain membuktikan keberadaan sebuah kategori, lalu menciptakan versi yang benar-benar diinginkan dan mampu dibeli oleh banyak orang.
Pertanyaannya kini, apakah CEO Apple saat ini, John Ternus, mampu mengaktifkan "mesin distorsi realitas" ala Steve Jobs untuk meyakinkan dunia bahwa ponsel lipat versi Apple akan membuat penggunanya terlihat lebih gaya?
Rumor mengenai ponsel lipat Apple, yang kemungkinan akan diberi nama iPhone Ultra, diperkirakan meluncur pada September tahun ini. Harganya pun diprediksi tidak akan jauh berbeda, bahkan mungkin lebih tinggi dari 2.000 dolar AS, dengan beberapa laporan menyebutkan angka 2.500 dolar AS.
Bagi sebagian pengguna, ponsel lipat masih terasa terlalu "teknis" dan cenderung menarik perhatian. Meskipun mengagumkan, perangkat ini terkadang terasa canggung digunakan di tempat umum, dan seringkali dibeli oleh mereka yang senang menjelaskan fitur ponselnya kepada orang asing. Memang, layar besar sangat ideal untuk menonton video atau bermain game, bahkan desainnya memungkinkan ponsel berdiri sendiri. Namun, bagi mereka yang tidak ingin menjadi pusat perhatian, membawa ponsel dengan layar ekstra besar di tempat umum justru bisa menjadi sasaran empuk bagi pencuri atau sekadar rasa ingin tahu orang lain. Kenyamanan dan privasi seringkali menjadi prioritas.
Pada akhirnya, tantangan terbesar Apple di bulan September nanti mungkin bukan terletak pada pengembangan engsel yang sempurna, kamera canggih, atau rasio layar yang ideal. Tantangan sesungguhnya adalah meyakinkan masyarakat bahwa ponsel lipat bisa menjadi perangkat yang keren dan layak dimiliki, bahkan dengan harga selangit. Ini adalah tugas yang jauh lebih berat daripada sekadar mengatasi rintangan teknis.
Namun, jika ada satu perusahaan yang mampu mengubah persepsi bahwa ponsel lipat adalah untuk semua orang, itu adalah Apple. Samsung telah melakukan pekerjaan berani dengan menciptakan dan menyempurnakan teknologi ini. Kini, tugas Apple adalah membuatnya terasa kurang seperti "dompet ajaib" dan lebih seperti sebuah iPhone yang telah mempelajari trik pesta yang memukau.

