Diyetekno.com- Industri smartphone global tengah menghadapi periode paling menantang dalam lebih dari satu dekade terakhir. Data terbaru dari Counterpoint Research mengungkapkan bahwa pengiriman ponsel pintar secara global pada kuartal ketiga (Q3) tahun 2025 anjlok hingga 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menandai titik terendah dalam 14 tahun terakhir untuk Q3, memicu pertanyaan besar tentang masa depan pasar perangkat genggam ini.
Penurunan drastis ini tidak hanya disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa isu krusial. Krisis pasokan RAM yang berkelanjutan menjadi salah satu penyebab utama. Kelangkaan komponen vital ini tidak hanya mendorong kenaikan biaya produksi, yang pada akhirnya berimbas pada harga jual yang lebih tinggi bagi konsumen, tetapi juga menyebabkan gangguan rantai pasok. Akibatnya, beberapa model smartphone mengalami keterbatasan stok, dan prospek untuk melakukan peningkatan perangkat menjadi kurang menarik atau terjangkau bagi banyak orang.

Namun, laporan Counterpoint Research mengisyaratkan bahwa ada fenomena lain yang turut berperan dalam kemerosotan ini. Konsumen dilaporkan "mempertahankan perangkat mereka lebih lama dari yang diperkirakan." Meskipun harga yang tinggi tentu dapat membuat orang menunda pembelian, ada indikasi bahwa perilaku konsumen ini melampaui sekadar respons terhadap krisis RAM. Ini menunjukkan adanya pergeseran mendasar dalam cara pandang masyarakat terhadap smartphone.
Apa sebenarnya yang mendorong konsumen untuk tidak terburu-buru mengganti ponsel mereka? Laporan tersebut tidak memberikan jawaban pasti, namun ada beberapa spekulasi yang mengemuka. Salah satunya adalah bahwa smartphone modern, bahkan model kelas menengah sekalipun, kini menawarkan kapabilitas yang sangat mumpuni dan daya tahan yang baik selama bertahun-tahun. Hal ini berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu, di mana perangkat cenderung cepat usang atau mengalami penurunan performa signifikan.
Di segmen premium, produsen semakin kesulitan untuk menawarkan peningkatan yang benar-benar revolusioner atau diferensiasi yang signifikan. Ponsel-ponsel terbaik saat ini sudah dilengkapi dengan kekuatan pemrosesan yang jauh melampaui kebutuhan sebagian besar pengguna, layar yang memukau, dan kamera dengan kualitas profesional. Inovasi yang terasa "wow" semakin jarang ditemukan, membuat konsumen merasa tidak ada urgensi untuk meng-upgrade perangkat yang sudah sangat baik.
Di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan ini, beberapa merek menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Samsung dan Apple, dua raksasa teknologi, tampak paling tangguh menghadapi badai ini. Samsung bahkan berhasil meningkatkan pangsa pasarnya menjadi 23%, meskipun pengirimannya mengalami penurunan 3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Keberhasilan ini sebagian besar dikaitkan dengan popularitas dan penerimaan positif dari Samsung Galaxy Z Fold 8.
Apple juga mencatatkan peningkatan pangsa pasar menjadi 22%, meskipun penjualan ponselnya juga lebih rendah dari tahun sebelumnya. Diperkirakan, pangsa pasar Apple bisa lebih tinggi lagi jika mereka telah meluncurkan model dasar iPhone 18 pada tahun ini, alih-alih menundanya hingga tahun depan. Sementara itu, merek lain seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo mengalami penurunan tajam dalam pengiriman dan pangsa pasar, yang secara tidak langsung menguntungkan Apple dan Samsung.
Secara keseluruhan, industri smartphone global menghadapi kenyataan bahwa lebih sedikit ponsel yang terjual. Meskipun kondisi mungkin membaik setelah krisis RAM mereda, ada kemungkinan pasar tidak akan sepenuhnya kembali ke "normal" jika pergeseran perilaku konsumen ini menjadi tren jangka panjang. Era di mana setiap tahun wajib ganti ponsel mungkin telah berakhir, digantikan oleh era di mana kualitas dan daya tahan menjadi prioritas utama.

