diyetekno.com – Elon Musk sosok di balik SpaceX kembali menggemparkan dunia dengan prediksi berani. Ia sesumbar bahwa Starlink proyek internet satelitnya akan menguasai mayoritas konektivitas global dalam kurun waktu kurang dari satu dekade. Klaim fantastis ini disampaikan dalam panggilan pendapatan perdana SpaceX sebagai perusahaan publik memicu perdebatan sengit tentang masa depan internet.
Bukan sekadar gertakan belaka Presiden dan COO SpaceX Gwen Shotwell turut mengamini visi ambisius tersebut. Ia bahkan optimis Starlink mampu merebut pangsa pasar signifikan dari raksasa telekomunikasi seperti AT&T Verizon dan T-Mobile yang secara kolektif meraup ratusan miliar dolar per tahun. Shotwell meyakini layanan Starlink akan jauh lebih unggul menawarkan pengalaman berinternet yang belum pernah ada sebelumnya.

Kunci dari janji revolusioner ini terletak pada satelit Starlink V3 generasi terbaru. Jika satelit V2 saat ini menawarkan kecepatan unduh sekitar 80 Gigabyte per detik V3 digadang-gadang mampu melonjak hingga 1 Terabit per detik. Peningkatan drastis juga terjadi pada kecepatan unggah dari sekitar 7 Gbps menjadi 160 hingga 200 Gbps. Tak hanya itu jumlah pancaran sinyal atau ‘beam’ yang mendukung pengguna bersamaan akan meningkat pesat dari kurang dari 200 pada V2 menjadi 2048 pada V3. Ini berarti kapasitas layanan Starlink akan berlipat ganda secara eksponensial.
Namun untuk mencapai target puluhan ribu satelit yang mengorbit di ketinggian rendah SpaceX membutuhkan kendaraan peluncur yang revolusioner. Di sinilah peran roket Starship yang masih dalam tahap uji coba menjadi krusial. Wahana setinggi 408 kaki ini diproyeksikan segera memasuki fase operasional penuh bahkan mungkin meluncur dalam waktu dekat. Starship telah berhasil membawa beberapa satelit V3 ke orbit dalam uji coba sebelumnya dan kini harus beralih ke mode peluncuran cepat dan berulang untuk mewujudkan ambisi Musk.
Musk sendiri menegaskan bahwa satelit Starlink V3 jauh lebih canggih sekitar sepuluh kali lipat dibandingkan V2. Dengan rencana peluncuran satelit V3 dalam jumlah yang juga sepuluh kali lipat lebih banyak ia memproyeksikan peningkatan bandwidth yang luar biasa mencapai dua tingkat besaran. Seluruh kapasitas bandwidth raksasa ini menurut Musk akan sangat dibutuhkan bukan hanya oleh pengguna internet biasa tetapi juga oleh kebutuhan data masif dari kecerdasan buatan robotika bahkan potensi basis di Bulan.
Meski demikian realitas Starlink Mobile masih memiliki tantangan besar. Dengan sekitar 12 juta pelanggan global Starlink masih jauh tertinggal dari lebih dari 300 juta koneksi yang dimiliki operator besar di Amerika Serikat. Satelit V3 yang menjadi tulang punggung layanan seluler Starlink baru akan diluncurkan secara resmi tahun depan sementara V2 akan mengisi kekosongan dan mendukung mitra seperti EchoStar.
Bukti awal efektivitas konektivitas Starlink sudah terlihat. Jake Krol editor pelaksana TechRadar US pernah merasakan kecepatan internet luar biasa saat terbang dengan pesawat United Airlines yang dilengkapi Starlink. Ia bahkan bisa melakukan livestreaming menonton video di YouTube dan berselancar di media sosial tanpa hambatan. Starlink Mobile nantinya diharapkan menghilangkan perantara memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit untuk koneksi instan dan cepat.
Dengan persetujuan FCC yang telah dikantongi Starlink pada Januari 2026 untuk konstelasi satelit generasi berikutnya jalan menuju dominasi internet tampaknya terbuka lebar. Namun kesuksesan akhir bergantung pada banyak faktor: Starship yang beroperasi penuh peluncuran puluhan ribu satelit baru dan yang terpenting jutaan pelanggan yang bersedia beralih dari penyedia layanan seluler tradisional mereka. Gwen Shotwell tetap optimis Starlink Mobile akan mulai beroperasi akhir tahun depan.

