diyetekno – Sebagai seorang jurnalis yang mendalami seluk-beluk kecerdasan buatan (AI), saya seringkali menyaksikan polarisasi pandangan: sebagian melihat AI sebagai penyelamat peradaban, sementara yang lain meramalkan kehancuran. Saya selalu berusaha menjaga objektivitas, bahkan setelah menyelami literatur yang membahas risiko AI super-human. Namun, tak ada yang benar-benar mempersiapkan saya untuk pengalaman menonton "The AI Doc: Or How I Became an Apocaloptimist" di Amazon Prime Video. Film dokumenter ini meninggalkan saya dengan perasaan yang jauh lebih kompleks dan mengganggu: sebuah ketidakpastian yang mendalam.
Disutradarai oleh David Borenstein, film ini secara gamblang menyoroti realitas yang tak terhindarkan: AI sudah meresap dalam kehidupan kita, mengubah lanskap pekerjaan, kreativitas, pendidikan, komunikasi, bahkan dinamika hubungan antarmanusia dengan kecepatan yang mungkin belum sepenuhnya kita pahami. Namun, satu statistik yang disajikan dalam dokumenter tersebut benar-benar membuat saya terdiam.

Menurut data yang dipaparkan dalam film, lebih dari 20.000 individu saat ini tengah berpacu mengembangkan Artificial General Intelligence (AGI) – sebuah bentuk AI yang diharapkan memiliki kemampuan kognitif setara atau bahkan melampaui manusia. Ironisnya, kurang dari 200 orang yang secara spesifik mendedikasikan diri pada aspek keamanan AI. Kesenjangan yang mencolok ini sulit untuk diabaikan, terutama di tengah desakan global untuk membangun AI yang lebih canggih tanpa diimbangi pemahaman mendalam akan potensi risikonya. Situasi ini diperparah oleh keputusan politik yang terkadang mengabaikan perlindungan AI tambahan, mengindikasikan bahwa perlombaan untuk menciptakan AI terasa lebih mendesak daripada upaya untuk memahaminya secara komprehensif.
Menariknya, dokumenter ini tidak serta-merta melabeli para peneliti AI sebagai antagonis. Banyak dari mereka yang diwawancarai dengan tulus meyakini bahwa AI memiliki potensi luar biasa untuk mempercepat terobosan medis, memecahkan masalah ilmiah yang kompleks, meningkatkan kualitas pendidikan, dan bahkan mendorong kemajuan umat manusia ke tingkat yang belum pernah terbayangkan. Sebagian dari potensi positif ini, harus diakui, sudah mulai terasa dalam berbagai sektor.
Saya sendiri, dalam pekerjaan sehari-hari, sangat bergantung pada AI. Saya menggunakannya untuk riset, mengorganisir informasi, memicu ide-ide baru, dan meningkatkan produktivitas. Seperti jutaan orang lainnya, saya telah mengintegrasikan alat seperti ChatGPT dari OpenAI ke dalam rutinitas harian saya tanpa banyak berpikir panjang. Inilah mengapa pesan dari dokumenter ini begitu menghantam: karena ketakutan yang disampaikannya justru menyoroti betapa normal dan tak terpisahkan AI telah terasa dalam hidup kita.
Film ini berulang kali kembali pada satu kenyataan yang tidak nyaman: perusahaan-perusahaan berlomba-lomba membangun sistem AI yang semakin kuat karena insentif finansial dan dominasi pasar sangatlah besar. Siapa pun yang pertama kali menciptakan model terbaik berpotensi mendominasi sektor pencarian, perangkat lunak, pendidikan, media, layanan kesehatan, dan pada akhirnya, seluruh industri. Realitas pahitnya adalah, laju perkembangan AI tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat.
Menyaksikan dokumenter ini mengingatkan saya pada masa-masa awal media sosial. Platform-platform tersebut meledak secara global jauh sebelum siapa pun sepenuhnya memahami konsekuensi jangka panjang dari misinformasi, manipulasi politik, masalah kesehatan mental, doomscrolling, atau kecanduan algoritma. Saat pemerintah dan masyarakat mulai bereaksi, platform-platform ini sudah tertanam kuat dalam kehidupan sehari-hari. Dokumenter ini menyoroti mengapa AI terasa sangat mirip – namun berpotensi jauh lebih cepat dan mendalam dalam dampaknya.
Dokumenter ini berargumen bahwa masyarakat mungkin sudah menggunakan AI dalam skala masif sebelum kita sepenuhnya memahami implikasi jangka panjang dari sistem yang semakin otonom, persuasif, dan terintegrasi dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Berbeda dengan media sosial, AI berkembang dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh regulasi, sistem pendidikan, bahkan pengguna biasa.
Bagian yang paling mengganggu bukanlah ramalan kiamat AI, melainkan ketidakpastian itu sendiri. Yang paling membuat saya gelisah tentang "The AI Doc" bukanlah gagasan bahwa AI suatu hari nanti mungkin menjadi berbahaya – kita mungkin sudah menyadari potensi itu sampai batas tertentu. Yang sangat mengganggu adalah perasaan bahwa kereta ini mungkin sudah melaju terlalu cepat untuk bisa diperlambat secara berarti.
Film ini menjelajahi ketegangan antara optimisme dan ketakutan, yang disebutnya sebagai "apocaloptimism." Sebuah gagasan bahwa AI dapat secara dramatis meningkatkan kualitas hidup manusia, sekaligus menciptakan risiko yang mungkin tidak kita pahami sepenuhnya sampai jauh di kemudian hari. Dengan AI yang terintegrasi ke hampir setiap aspek kehidupan kita, mulai dari ponsel hingga peramban web, dan perusahaan-perusahaan mengganti alur kerja dengan otomatisasi, semuanya tampak terjadi secara bersamaan. Singkatnya, kita menganyam AI ke dalam hidup kita dengan kecepatan tinggi, sementara pemerintah berjuang untuk menciptakan pagar pembatas yang cukup cepat.
Perlu ditegaskan, film ini tidak mengklaim bahwa AI pasti akan menghancurkan umat manusia. Bahkan, ia menghindari prediksi ekstrem sama sekali. Namun, yang membuatnya begitu mengganggu adalah kemungkinan bahwa kita sedang membangun sistem yang cukup kuat untuk membentuk kembali masyarakat sebelum kita sepenuhnya sepakat tentang bagaimana sistem tersebut harus berperilaku, atau siapa yang seharusnya mengendalikannya.
"The AI Doc" sangat layak ditonton, terutama jika Anda adalah orang tua. Ini adalah salah satu alasan mengapa pembuat film Daniel Roher dan Charlie Tyrell mengerjakan proyek ini; keduanya sedang menantikan anak dan film tersebut menyoroti ketidakpastian mereka tentang masa depan bagi anak-anak mereka. Dokumenter ini tidak mengharapkan penonton untuk percaya bahwa AI itu jahat. Namun, ia meninggalkan saya dengan pertanyaan mendalam: apa yang terjadi ketika salah satu teknologi paling kuat dalam sejarah manusia berkembang lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk memahaminya? Sejujurnya, pertanyaan itu terus menghantui pikiran saya.

