Diyetekno.com- Sebuah ironi mendalam menyelimuti dunia kecerdasan buatan (AI) ketika sejumlah kontraktor yang dipekerjakan oleh OpenAI, perusahaan pengembang ChatGPT, dilaporkan dipecat karena menggunakan AI untuk menyelesaikan pekerjaan mereka sendiri. Para pekerja ini, yang seharusnya memberikan penilaian manusiawi untuk melatih model AI, justru menyerahkan tugas krusial tersebut kepada bot cerdas, memicu pertanyaan tentang otentisitas dan kualitas data pelatihan.
Laporan dari 404 Media mengungkapkan bahwa beberapa kontraktor telah diberhentikan atau dikeluarkan dari proyek setelah terbukti memanfaatkan AI untuk meninjau dan meningkatkan respons yang dihasilkan oleh model OpenAI. Aturan ini, meskipun terdengar kontradiktif, sebenarnya sangat masuk akal. Para pekerja ini direkrut secara khusus untuk keahlian penilaian manusia mereka, sebuah kualitas yang akan sangat berkurang nilainya jika tugas tersebut diserahkan kepada ChatGPT atau chatbot AI lainnya.

Seorang kontraktor yang diwawancarai oleh 404 Media menyatakan bahwa praktik penggunaan AI oleh pekerja lain adalah hal yang "sering terlihat," dan pemecatan rutin terjadi karena pelanggaran ini. Kontraktor lain bahkan membagikan surat pemutusan kerja yang secara eksplisit menyebutkan masalah "keaslian" dalam pekerjaan mereka. Mercor, sebuah perusahaan pelatihan AI yang mempekerjakan kontraktor untuk proyek-proyek OpenAI, juga mengonfirmasi bahwa kontrak mereka melarang penggunaan model bahasa besar (LLM) untuk menyelesaikan tugas-tugas proyek.
Model AI tidak hanya belajar dari mengikis data teks dalam jumlah besar dari buku atau internet. OpenAI sendiri mengakui bahwa informasi yang disediakan atau dihasilkan oleh pelatih dan peneliti manusia adalah salah satu sumber penting dalam pengembangan model dasarnya. Umpan balik dari manusia telah lama memainkan peran krusial dalam mengajarkan model AI respons mana yang lebih disukai orang dan bagaimana model tersebut harus berperilaku. Ini menjadikan kualitas umpan balik manusia sangat penting, mengingat OpenAI juga mengakui bahwa model yang dilatih menggunakan umpan balik manusia dapat dipengaruhi oleh individu yang melabeli data tersebut.
Yang menarik, perusahaan AI sebesar OpenAI tidak mengandalkan detektor AI untuk menangkap para pelanggar. Laporan 404 Media tidak merinci secara pasti bagaimana kontraktor tersebut tertangkap, tetapi dokumen internal yang diperoleh publikasi tersebut memberikan gambaran menarik tentang metode yang digunakan. Instruksi tersebut secara eksplisit melarang peninjau menggunakan alat seperti GPTZero karena dianggap tidak dapat diandalkan. Sebaliknya, peninjau diminta untuk menilai pola keseluruhan dari kiriman pekerjaan seorang kontraktor dan mencari petunjuk seperti penggunaan kata-kata yang berulang, waktu penyelesaian yang sangat cepat, dan pola penulisan yang terkait dengan AI. Bahkan penggunaan tanda hubung yang berlebihan pun bisa menimbulkan kecurigaan.
Keputusan untuk tidak menggunakan detektor AI menggarisbawahi keterbatasan teknologi tersebut dalam mengidentifikasi konten yang dihasilkan AI secara akurat, terutama ketika AI tersebut semakin canggih. Ini menunjukkan bahwa bahkan di tengah kemajuan pesat AI, penilaian manusia tetap menjadi tolok ukur yang lebih andal untuk membedakan antara karya manusia dan mesin. Peninjau juga diinstruksikan untuk tidak memberitahukan secara spesifik apa yang membuat mereka mencurigai penggunaan AI, agar tidak memudahkan pelanggar menyembunyikan praktik tersebut di kemudian hari.
Meskipun OpenAI juga memanfaatkan data sintetis — informasi yang dihasilkan dengan bantuan model AI — untuk beberapa proses pelatihan, hal itu berbeda dengan secara diam-diam mengganti seorang manusia dengan model AI untuk memberikan umpan balik. Jika seorang evaluator diharapkan memberi tahu OpenAI respons mana yang lebih disukai manusia, meminta AI lain untuk membuat keputusan itu akan menggagalkan tujuan utama perekrutan evaluator tersebut. Insiden ini mungkin tidak secara langsung membuat ChatGPT menjadi lebih buruk, dan tidak ada bukti bahwa pekerjaan kontraktor yang dihasilkan AI menyebabkan kerusakan terukur pada model OpenAI. Namun, situasi ini mengungkap salah satu realitas paling aneh dari ledakan AI: bahkan perusahaan yang membangun sistem AI masih membutuhkan manusia untuk memberi tahu sistem tersebut kapan mereka telah melakukan sesuatu dengan benar.
Pada akhirnya, kasus pemecatan kontraktor ini menjadi pengingat tegas bahwa sentuhan manusia, dengan segala kompleksitas penilaian dan pemahamannya, masih merupakan komponen yang tak tergantikan dalam evolusi kecerdasan buatan, memastikan bahwa teknologi ini berkembang sesuai dengan harapan dan preferensi manusia.

