diyetekno.com – Sebuah inovasi mengejutkan muncul di pameran IFA 2026 yang berhasil menarik perhatian para pecinta kopi sejati. Mesin espresso bernama nunc. hadir dengan kecanggihan kecerdasan buatan atau AI, menjanjikan pengalaman menyeduh kopi yang belum pernah ada sebelumnya. Seorang pakar kopi yang dikenal sangat selektif dan memimpin "The Coffee Lab" di Tom’s Guide, awalnya skeptis namun akhirnya dibuat terkesima dengan kemampuan perangkat revolusioner ini.
Lalu, apa sebenarnya peran AI dalam mesin nunc. ini? Alih-alih menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengatur penggilingan biji kopi secara manual, nunc. menggunakan kode NFC pada kemasan biji kopi mereknya sendiri. Sistem ini menganalisis berbagai variabel penting seperti kelembaban, suhu, hingga ukuran biji kopi. Hasilnya, mesin akan secara otomatis menyesuaikan tingkat penggilingan hingga mencapai ukuran partikel paling ideal. Bagi mereka yang mencintai espresso namun membenci proses "dialing in" yang seringkali memakan waktu, fitur ini tentu menjadi angin segar.

Cara kerja nunc. terbilang cerdas. Setiap wadah biji kopi bermerek nunc. dilengkapi dengan kode NFC, mirip dengan kapsul Nespresso Vertuo. Kode ini memberikan informasi detail seperti tanggal sangrai, jenis sangrai, varietas biji, dan metode pemrosesan. Setelah itu, mesin menganalisis kondisi lingkungan sekitar, termasuk suhu dan kelembaban udara, untuk menyempurnakan ukuran gilingan. Ini berarti ukuran gilingan bisa berubah dari pagi ke malam, bahkan setiap jam, menyesuaikan kondisi udara di ruangan Anda. Untuk biji kopi non-merek nunc., pengguna dapat memasukkan informasi melalui aplikasi pendamping.
Meskipun canggih, nunc. bukanlah mesin super-otomatis sepenuhnya. Dari segi fungsionalitas, ia beroperasi layaknya mesin espresso manual lainnya. Bedanya, nunc. mengambil alih satu tugas yang seringkali merepotkan: menentukan ukuran gilingan paling optimal. Pengguna tetap melakukan proses penting lainnya seperti memadatkan bubuk kopi (tamping), memasang portafilter, melakukan pre-infusion, dan bahkan mengukus susu (bisa otomatis atau manual). Pembersihan sisa ampas kopi dan penampung tetesan air juga tetap menjadi tanggung jawab pengguna. Ini menegaskan bahwa AI hanya berfungsi pada bagian penggilingan, menjaga esensi seni meracik kopi tetap di tangan manusia.
Lantas, bagaimana rasa kopi yang dihasilkan oleh "AI" nunc. ini? Jangan berharap ada sensasi rasa yang aneh atau "berbau AI". Kopi yang disajikan benar-benar terasa seperti hasil racikan barista profesional. Pengalaman mencicipi flat white oat yang dibuat menunjukkan rasa yang bersih halus dengan sentuhan pahit cokelat hitam yang lembut. Meskipun sang pengulas pribadi menginginkan sedikit lebih banyak nuansa buah asam dan "funk" pada kopinya – preferensi yang bisa disesuaikan dengan pemilihan biji kopi – secara keseluruhan, hasilnya sangat memuaskan. Tekstur susu yang dihasilkan juga dapat diatur sesuai keinginan, memastikan setiap cangkir kopi sempurna.
Namun ada kabar kurang menyenangkan bagi para penggemar kopi di luar Jerman. Saat ini, mesin nunc. baru tersedia secara eksklusif di negara tersebut. Harganya dipatok €2.699, atau sekitar $3.135, menjadikannya salah satu mesin espresso rumahan termahal yang pernah ada. Dengan harga tersebut, pembeli akan mendapatkan satu set lengkap yang mencakup mesin, penggiling, tamper pegas, teko susu, sikat pembersih, dan alas tamping. Meskipun harganya fantastis, perwakilan nunc. belum mengumumkan tanggal rilis untuk pasar internasional lainnya, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, Kanada, dan Australia. Para pecinta kopi di seluruh dunia tentu berharap inovasi ini segera merambah dapur mereka.

