diyetekno – Sebagai seorang reviewer smartphone yang sudah malang melintang, saya selalu menantikan inovasi dari Apple. Namun, ada satu hal yang terus membuat saya geleng-geleng kepala: Siri. Ketidakhadirannya di WWDC 2024 kemarin semakin mempertegas bahwa asisten virtual ini adalah kegagalan terbesar Apple dalam 14 tahun terakhir. Ibarat teman yang selalu diandalkan tapi tiba-tiba menghilang saat dibutuhkan, Siri seolah ditendang keluar dari panggung utama, seperti Tim di film Terminator 2.
Apple memang memperkenalkan Apple Intelligence, tapi kita semua tahu, Siri yang ditenagai AI belum memenuhi standar tinggi mereka. Janji manis tentang pembaruan di masa depan terdengar hambar, mengingat kita sudah menunggu selama setahun sejak pengumuman awal di WWDC 2023. Kegagalan Siri untuk bersaing bukan hanya soal ketertinggalan Apple dalam pengembangan AI, tapi juga sejarah panjang performa buruknya dibandingkan kompetitor.

Lucunya, Siri dulunya adalah pelopor. Apple mengakuisisi produk yang sudah ada dan mengintegrasikannya ke iPhone 4S. Saat itu, kami di majalah iPhone melihat Siri sebagai terobosan besar, cara baru berinteraksi dengan smartphone. Sayangnya, ekspektasi itu tidak terwujud. Siri hanya sesekali mendapat fitur baru, tapi tetap menjadi remote control berbasis suara untuk timer dan mengirim pesan.
Ketika Alexa dan Google Assistant merajai dunia teknologi, Siri tak mampu mengejar. Bahkan, saat Apple meluncurkan HomePod, Siri jauh lebih inferior dari Alexa. Permintaan musik sederhana saja seringkali salah. Ironisnya, HomePod yang diumumkan di WWDC 2017 juga mengalami penundaan peluncuran hampir setahun.
Selama bertahun-tahun, Apple menambahkan fitur dan melakukan tweak pada Siri, tapi tak pernah mengatasi masalah mendasar: ketidakmampuannya menangani hal-hal di luar perintah dasar. Saya sendiri menggunakan Siri setiap hari untuk mengatur timer memasak, menyalakan lampu pintar, atau mengaktifkan olahraga di Apple Watch. Tapi, semua ini bisa dilakukan Siri 14 tahun lalu. Setiap kali saya mencoba fitur baru, Siri selalu gagal total.
WWDC tahun depan akan menandai 15 tahun keberadaan Siri. Pertanyaannya, apakah kita akan melihat versi baru yang benar-benar revolusioner? Jika tidak, atau jika pembaruannya sama mengecewakannya dengan versi sebelumnya, mungkin sudah saatnya Apple "memensiunkan" Siri. Google Gemini terlalu impresif di smartphone Android, sementara ChatGPT bekerja sama dengan Jony Ive untuk perangkat berbasis AI. Siri tak bisa terus-terusan diselamatkan. Ketidakhadirannya di WWDC adalah kekecewaan kesekian kalinya. Cepat atau lambat, ini harus berakhir.
Berikut adalah perbandingan singkat antara Siri dan kompetitornya:
| Fitur | Siri | Google Assistant | Alexa |
|---|---|---|---|
| Pemahaman Bahasa | Terbatas, sering salah interpretasi | Lebih baik, adaptif terhadap konteks | Cukup baik, terus berkembang |
| Integrasi Ekosistem | Kuat di ekosistem Apple | Luas, terintegrasi dengan banyak layanan | Luas, terintegrasi dengan banyak perangkat |
| Respons | Lambat, terkadang tidak responsif | Cepat dan akurat | Cepat dan responsif |
| Fitur | Dasar, fokus pada perintah sederhana | Lebih banyak, termasuk AI generatif | Banyak, fokus pada kontrol rumah pintar |
Sebagai penutup, saya berharap Apple segera berbenah dan menghadirkan Siri yang benar-benar cerdas dan bermanfaat. Jika tidak, Siri akan terus menjadi noda dalam sejarah inovasi Apple.

