Diyetekno.com- Dunia telekomunikasi tengah menyaksikan persaingan sengit antara para pemain lama dengan inovator baru yang berani, salah satunya Starlink milik Elon Musk. Di tengah rencana ambisius Starlink untuk merambah pasar seluler tradisional, CEO AT&T, John Stankey, justru menyuarakan keraguan mendalam. Namun, di balik skeptisisme tersebut, muncul sebuah ironi menarik yang menunjukkan bahwa lanskap konektivitas masa depan mungkin jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan.
Dalam sebuah wawancara dengan Axios, Stankey secara tegas menyatakan bahwa rencana Musk untuk meluncurkan layanan operator seluler yang bersaing langsung dengan raksasa seperti AT&T, T-Mobile, dan Verizon, "bukanlah strategi yang layak." Alasan utama Stankey berakar pada ketergantungan Starlink yang besar pada konstelasi satelit, dibandingkan dengan infrastruktur serat optik yang menjadi tulang punggung AT&T. "Tidak ada yang bisa mengalahkan serat optik," ujarnya, menekankan bahwa konektivitas serat optik tiga kali lebih cepat daripada satelit. Stankey bahkan menambahkan, "Satelit, dalam kondisi terbaiknya—jika semuanya berjalan lancar dalam 10 tahun ke depan—tetap tidak akan mengalahkan serat optik."

Pernyataan Stankey ini tentu saja menarik, mengingat Starlink sendiri tidak sepenuhnya mengabaikan infrastruktur darat. Perusahaan milik Musk tersebut sebelumnya telah menguraikan rencana untuk memasang stasiun pemancar seluler kecil di samping parabola Starlink di rumah dan bisnis. Ini menunjukkan bahwa Starlink juga memahami pentingnya jaringan terestrial untuk melengkapi layanan satelit mereka. Namun, Stankey tetap skeptis terhadap pendekatan ini. Menurutnya, upaya tersebut akan menelan biaya yang sangat besar dan menghadapi berbagai hambatan. "Ada banyak masalah lain, seperti Anda tidak bisa memancarkan sinyal seluler dari rumah seseorang tanpa izin mereka, kecuali jika ada perubahan undang-undang. Kita bisa membahas banyak alasan mengapa itu tidak akan berfungsi secara efektif," jelasnya.
Keraguan terhadap kelayakan Starlink Mobile juga bergema di kalangan beberapa analis. Madison Rezaei, seorang analis dari Bernstein, berpendapat bahwa Starlink Mobile mungkin dapat mengisi celah signifikan di pasar—seperti di daerah terpencil, maritim, atau skenario bencana—tetapi masih sangat jauh dari menggantikan jaringan operator terestrial yang ada. Di sisi lain, Alex Besen, CEO Besen Group, memiliki pandangan yang sedikit lebih positif. Dalam percakapan dengan Fierce Network, Besen memprediksi bahwa operator konvensional "mungkin tidak mayoritas, tetapi pasti, mereka akan kehilangan" sebagian pangsa pasar konsumen kepada Starlink Mobile.
Dan inilah letak ironinya: meskipun Stankey menyuarakan keraguan yang kuat, AT&T tampaknya tidak ingin mengambil risiko. Bersama dengan pesaing utamanya, T-Mobile dan Verizon, AT&T baru-baru ini meluncurkan usaha patungan. Tujuan dari kolaborasi ini adalah untuk menghilangkan "zona mati" cakupan melalui konektivitas satelit. Langkah ini secara tidak langsung mengakui potensi teknologi satelit dalam melengkapi jaringan yang sudah ada, sebuah pendekatan yang mirip dengan apa yang coba diwujudkan oleh Starlink.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa masa depan konektivitas tidak akan didominasi oleh satu teknologi saja. Sebaliknya, operator telekomunikasi kemungkinan besar akan mengadopsi model hibrida, menggabungkan menara seluler tradisional, infrastruktur serat optik berkecepatan tinggi, dan konektivitas satelit untuk melayani pelanggan mereka. Baik rencana Starlink Mobile milik Musk itu layak atau tidak dalam bentuk murni, satu hal yang pasti: persaingan dan inovasi di sektor telekomunikasi akan terus mendorong batas-batas kemungkinan, memastikan bahwa konektivitas semakin merata dan canggih di seluruh dunia.

