diyetekno – Bagi seorang jurnalis yang setiap hari berkutat dengan kecerdasan buatan (AI), menghabiskan sebagian besar waktu kerja berinteraksi dengan algoritma mungkin terdengar biasa. Namun, apa jadinya jika interaksi intens ini mulai merambah ke alam mimpi? Inilah pengalaman tak terduga yang dialami seorang editor AI, di mana batas antara dunia nyata dan bawah sadar mulai kabur, menghadirkan skenario mimpi yang terasa seperti sesi "prompting" AI itu sendiri.
Kisah ini bermula dari kebiasaan sang jurnalis yang, karena pekerjaannya, lebih sering "berbicara" dengan AI daripada manusia. Ketika AI mulai muncul dalam mimpinya—mulai dari percakapan halus untuk memecahkan masalah hingga upaya berulang untuk menyempurnakan permintaan dalam skenario mimpi—ia mulai bertanya-tanya. Fenomena ini memicu rasa ingin tahu yang mendalam, mendorongnya untuk memulai jurnal mimpi. Selama beberapa minggu, setiap mimpi yang diingat segera dicatat, bahkan di tengah malam. Data mimpi ini kemudian dimasukkan ke ChatGPT untuk mencari pola tersembunyi. Penting untuk digarisbawahi, ini bukanlah eksperimen ilmiah, melainkan upaya personal untuk memahami sejauh mana interaksi harian dengan AI memengaruhi aktivitas otaknya saat tidur.

Temuan awal cukup mengejutkan, namun tidak sepenuhnya aneh jika dilihat dari perspektif psikologi tidur. Para peneliti telah lama mendokumentasikan fenomena yang dikenal sebagai "Efek Tetris." Konsep ini menjelaskan bagaimana individu yang menghabiskan waktu signifikan dalam suatu aktivitas seringkali menemukan elemen dari aktivitas tersebut muncul dalam mimpi mereka. Gamer bermimpi tentang video game, musisi bermimpi tentang lagu, dan mereka yang stres bermimpi tentang pekerjaan. Dengan kata lain, otak kita tidak selalu berhenti memproses pengalaman saat kita tidur. Jika demikian, AI mungkin hanyalah "stimulus" terbaru yang sedang diproses oleh otak kita.
Berbeda dengan sekadar menggulir media sosial atau menonton televisi, interaksi dengan AI bersifat sangat aktif dan partisipatif. Pengguna terus-menerus mengajukan pertanyaan, mengevaluasi jawaban, menyempurnakan permintaan, dan mengeksplorasi ide-ide baru. Semakin dalam direnungkan, semakin tidak mengherankan bahwa beberapa interaksi intensif ini pada akhirnya akan meresap ke dalam alam bawah sadar dan termanifestasi dalam mimpi.
Setelah meninjau catatan jurnal mimpi selama berminggu-minggu, tiga pola spesifik mulai terlihat jelas:
Pertama, AI jarang muncul sebagai chatbot atau asisten dalam mimpi. Sebaliknya, yang muncul adalah struktur interaksinya. Sang jurnalis menemukan dirinya mengajukan pertanyaan, mencari informasi, dan berusaha memecahkan masalah dalam skenario mimpi.
Kedua, banyak mimpi terasa seperti proses "prompting." Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan, ia akan menyesuaikan permintaannya dan mencoba lagi—sebuah deskripsi yang aneh untuk sebuah mimpi, namun itulah perbandingan terdekat yang bisa dibuat.
Ketiga, dan mungkin yang paling penting, kegiatan mencatat jurnal mimpi secara dramatis meningkatkan daya ingat mimpinya. Ia mengingat lebih banyak mimpi, detail yang lebih kaya, dan tema-tema berulang dibandingkan biasanya. Aspek ini saja sudah menjadikan eksperimen personal ini sangat berharga.
Namun, ada efek samping tak terduga lainnya. Jurnal mimpi tersebut secara tidak sengaja menyoroti fenomena tidur aneh lain yang telah dialami sang jurnalis sepanjang hidupnya: exploding head syndrome (sindrom kepala meledak). Kondisi ini menyebabkan seseorang terbangun di tengah malam dengan sensasi ledakan atau retakan listrik yang tiba-tiba di dalam kepala. Meskipun namanya mengkhawatirkan, kondisi ini umumnya dianggap tidak berbahaya, namun sangat menakutkan saat terjadi. Biasanya, ini terjadi sekitar tiga kali setahun. Namun, selama eksperimen ini, ia menjadi lebih sadar betapa seringnya sindrom ini muncul setelah hari kerja yang sangat intens dan didominasi interaksi AI.
Meskipun tidak ada klaim bahwa AI menyebabkan sindrom kepala meledak—dokter menyatakan bahwa penyebab pastinya masih belum sepenuhnya dipahami, dengan faktor seperti stres, kelelahan, dan gangguan tidur sebagai kontributor—namun menghabiskan sepanjang hari bergulat dengan percakapan AI, menguji alat baru, dan memproses informasi dalam jumlah besar jelas tidak terasa menenangkan. Beberapa malam, rasanya otaknya masih berusaha menjawab "prompt" jauh setelah laptop ditutup. Apakah ini adalah hubungan nyata atau hanya hasil dari perhatian yang lebih cermat terhadap pola tidurnya, sulit untuk dipastikan. Namun, pengalaman ini cukup untuk membuatnya mempertimbangkan ulang seberapa banyak stimulasi mental yang ia konsumsi sebelum tidur.
AI kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita, mulai dari fitur AI Overviews di Google Search hingga penggunaan chatbot yang meluas. Bahkan Paus pun menyebutnya sebagai ancaman bagi kemanusiaan, dan para pengembang AI sendiri tidak sepenuhnya yakin akan dampaknya—baik terhadap tenaga kerja, kesehatan mental, maupun lingkungan. Beberapa tahun lalu, AI masih terasa seperti sebuah hal baru. Hari ini, ia ada di mana-mana, suka atau tidak. Dan, ketika sesuatu menempati begitu banyak ruang dalam kehidupan sadar Anda, tidak mengherankan jika sesekali ia mengikuti Anda ke dalam tidur. Apakah AI menyebabkan mimpi-mimpi ini? Mungkin tidak secara langsung. Namun, ia mungkin telah menjadi satu lagi hal yang membuat otak kita stres setelah lampu padam. Jika Anda belakangan ini menghabiskan berjam-jam berbicara dengan chatbot, jangan terkejut jika alam bawah sadar Anda mulai ikut bergabung dalam percakapan. Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar—pernahkah Anda bermimpi tentang AI?
